Agenda Acara

No events found
 
 

Supervisi Program TB Paru Puskesmas Padarincang

monev padarincang (1)UPT PTB Dinas Kesehatan kabupaten Serang yang saat ini di pimpin oleh Bapak Padri dalam melaksanakan salah satu tupoksinya dengan tujuan pengendalian kasus TB Paru di Kabupaten Serang sesuai Peraturan Menteri Kesehatan republik Indonesia Nomor 67/menkes/SK/V/2009 tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis yang telah disesuaikan dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kebutuhan hukum, seperti pada hari ini Tim dari UPT PTB Paru Dinas Kesehatan Kabupaten Serang melaksanakan Supervisi, Monitoring dan Evaluasi Program TB ke Puskesmas Padarincang.

Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menimbulkan kesakitan, kecacatan, dan kematian yang tinggi, dan Indonesia menempati urutan ke dua dunia setelah Negara India untuk kasus TB Paru dan Kabupaten Serang sendiri menempati urutan kedua di Provinsi Banten untuk kasus TB Paru setelah Tangerang, banyaknya kasus TB Paru ini dikarenakan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang penyakit TB Paru masih kurang.

Dalam PMK dijelaskan bahwa salah satu mekanisme pembinaan dan pengawasan Penanggulangan TB Paru adalah dengan melakukan kegiatan supervisi, monitoring dan evaluasi. Supervisi adalah suatu aktivitas pengawasan yang biasa dilakukan untuk memastikan bahwa suatu proses pekerjaan dilakukan sesuai dengan yang seharusnya, sementara Monitoring dan Evaluasi (Monev) program TB merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program TB.
Seorang supervisor dituntut untuk dapat menguasai paling tidak dua hal penting agar proses supervisi menjadi bernilai tambah antara lain:
1. Kemampuan teknis sesuai proses pekerjaan yang ditangani;
2. Kemampuan manajemen.
Kegiatan monitoring harus dilakukan secara rutin dan berkala sebagai deteksi awal masalah dalam pelaksanaan kegiatan program sehingga dapat segera dilakukan tindakan perbaikan. Monitoring dapat dilakukan dengan membaca dan menilai laporan rutin maupun laporan tidak rutin, serta kunjungan lapangan. Kegiatan evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana pencapaian tujuan, indikator, dan target yang telah ditetapkan. Evaluasi ini dilakukan dalam rentang waktu lebih lama, biasanya setiap 6 bulan s/d 1 tahun.
Pelaksanaan Monev merupakan tanggung jawab masing-masing tingkat pelaksana program, mulai dari Fasilitas kesehatan, Kabupaten/Kota, Provinsi hingga Pusat. Seluruh kegiatan program harus dimonitor dan dievaluasi dari aspek masukan (input), proses, maupun keluaran (output) dengan cara menelaah laporan, pengamatan langsung dan wawancara ke petugas kesehatan maupun masyarakat sasaran.
Pada kegiatan supervisi hari ini Senin 2 Oktober 2017 Tim menemui kepala Puskesmas, petugas TB dan petugas Laboratorium puskesmas Padarincang. Pemeriksaan dimulai dari bagaimana proses perencanaan program, pencatatan dan pelaporan atau dokumentasi sampai dengan evaluasi kesembuhan pasien. Rangkaian pemeriksaan ini harus lengkap karena merupakan satu kesatuan dalam melihat tingkat keberhasilan program.
Kegiatan tersebut terdiri dari:
1. Pemeriksaan Pencatatan dan Pelaporan Program TB Paru mulai dari TB 01 sampai TB 13 serta hasil uploadnya ke SITT (sistem informasi tuberkulosis terpadu). Pemeriksaan pelaporan sangat penting karena diperlukan suatu sistem pencatatan dan pelaporan baku yang dilaksanakan dengan baik dan benar maka akan didapatkan data yang sah atau valid untuk diolah, dianalisis, diinterpretasi, disajikan dan disebarluaskan untuk dimanfaatkan sebagai dasar perbaikan program.
2. Menilai cakupan Indikator Program TB, hal ini dilakukan untuk mempermudah analisis data yang diperlukan sebagai alat ukur kinerja dan kemajuan program (marker of progress). Dalam menilai kemajuan atau keberhasilan program pengendalian TB digunakan beberapa indikator yaitu:
1. Indikator dampak:
a. Angka Prevalensi TB;
b. Angka Insidensi TB;
c. Angka Mortalitas TB.
3. Indikator utama:
a. Cakupan pengobatan semua kasus TB (case detection rate/CDR) yang diobati;
b. Angka notifikasi semua kasus TB (case notification rate/CNR) yang diobati per 100.000 penduduk;
c. Angka keberhasilan pengobatan pasien TB semua kasus;
d. Cakupan penemuan kasus resistan obat;
e. Angka keberhasilan pengobatan pasien TB resistan obat;
f. Persentase pasien TB yang mengetahui status HIV;
g. Persentase kabupaten/kota yang mencapai target CDR;
h. Persentase kabupaten/kota yang mencapai target CNR;
i. Persentase kabupaten/kota yang mencapai target angka keberhasilan pengobatan pasien TB semua kasus;
j. Persentase kabupaten/kota yang mencapai target indikator cakupan penemuan kasus TB resistan obat;
k. Persentase kabupaten/kota yang mencapai target angka keberhasilan pengobatan pasien TB resistan obat;
l. Persentase kabupaten/kota yang mencapai target indikator persentase pasien TB yang mengetahui status HIV
4. Indikator operasional:
a. Persentase kasus pengobatan ulang TB yang diperiksa uji kepekaan obat dengan tes cepat molukuler atau metode konvensional;
b. Persentase kasus TB resistan obat yang memulai pengobatan lini kedua;
c. Persentase Pasien TB-HIV yang mendapatkan ARV selama pengobatan TB;
d. Persentase laboratorium mikroskopik yang mengikuti uji silang;
e. Persentase laboratorium mikroskopis yang mengikuti uji silang dengan hasil baik;
f. Cakupan penemuan kasus TB anak;
g. Cakupan anak < 5 tahun yang mendapat pengobatan pencegahan INH;
h. Jumlah kasus TB yang ditemukan di Populasi Khusus (Lapas/Rutan, Asrama, Tempat Kerja, Institusi Pendidikan, Tempat Pengungsian);
i. Persentase asus TB yang ditemukan dan dirujuk oleh masyarakat atau organisasi kemasyarakatan;
j. Persentase kabupaten/kota minimal 80% fasyankesnya terlibat dalam PPM;
k. Persentase kabupaten/kota yang mencapai target indikator persentase pasien TB-HIV yang mendapatkan ARV selama pengobatan TB;
l. Persentase kabupaten/kota yang mencapai target untuk indikator persentase laboratorium mikroskopis yang mengikuti uji silang;
m. Persentase kabupaten/kota yang mencapai target untuk indikator persentase laboratorium yang mengikuti uji silang dengan hasil baik;
n. Persentase kabupaten/kota yang mencapai target cakupan penemuan kasus TB anak;
o. Persentase kabupaten/kota yang mencapai target indikator cakupan anak < 5 tahun yang mendapat pengobatan pencegahan PP INH

Petugas Tb Puskesmas Padarincang ini baru 10 bulan bertugas, karenanya dalam hal pencatatan dan pelaporan masih banyak kekurangan. Tim meminta Kepala Puskesmas mengarahkan petugas agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik sehingga hasil yang didapat bisa maksimal.
Pada akhir kegiatan Bapak Padri menyampaikan hasil kegiatan supervise, monitoring dan evaluasi kepada Kepala Puskesmas, petugas TB dan petugas Laboratorium Puskesmas Padarincang, antara lain:
1. Petugas TB Paru belajar kembali bagaimana pelaksanaan pengendalian kasus TB, mulai dari pencarian paisen, pencatatan dan pelaporan sampai dengan evaluasi keberhasilan pengobatan serta berkoordinasi dengan petugas program lain terkait program TB;
2. Petugas Laboratorium untuk lebih mengingatkan dan berkoordinasi dengan petugas TB untuk pemeriksaan Laboratorium;
3. Kepala Puskesmas untuk lebih bisa mengarahkan petugas program yang ada di puskesmas agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga hasil yang didapat maksimal.
Kegiatan Supervisi, Monitoring dan Evaluasi di Puskesmas Padarincang berlangsung dalam satu hari, Tim berharap ke depan Petugas TB Paru Puskesmas Padarincang lebih menguasai program TB dan melaksanakan pencatatan dan pelaporan yang baik. Kesalahan dalam penangan kasus TB berakibat kasus TB MDR/XDR serta kematian akibat TB meningkat.

monev padarincang (2)monev padarincang (3)


Plt Kepala Dinkes Kab.Serang

        FOTO SEKDIS

virus covid19

 

Hasil gambar untuk hkn 2019

 

Link Terkait

 
 
loader

Peta